Singkat, Apa itu? Kehidupan Dunia...


 Dia bukan sedang galau, dilema, bimbang, apalagi sedih, di cuma sedang berpikir "Hidup itu singkat banget ya?"  (dok.yusufnesia)


          Fana, tentatif, temporer, sementara. Ya,  begitulah kehidupan kita di dunia ini. Kalau orang jawa sering mengatakan “Urip kui mung mampir ngombe”, istilah Indonesia-nya hidup itu cuma singgah sebentar untuk minum,  kalimat singkat, tapi penuh makna dan memang benar begitu adanya.  Banyak orang yang mengatakan, “sepertinya baru kemarin saya masuk SD, ehsekarang sudah  SMP, belum lama ikut MOS SMA, eh, sekarang sudah ikut OSPEK, sepertinya OSPEK baru kemarin ya, kok sudah skripsi aja, sepertinya baru kemarin lulus kuliah, eh, sekarang sudah punya  3 anak, eh, sudah punya cucu dan begitu seterusnya. 
       Fase-fase dalam kehidupan terkadang  terlewati  dengan begitu cepatnya, seperti saya ini, sepertinya baru kamarin masuk usia 17 tahun, eh sekarang sudah masuk usia 21 tahun alias remaja akhir (baca: tua). Hemm.. cepatnya, detik, menit, jam , hari, bulan, tahun  terus berganti, berjalan, merambat maju mengiringi kehidupan manusia sampai akhir khayat nya.
         Saya sendiri sering merenung (baca:tafakur), satu per satu entah itu saudara, tetangga, kerabat, teman, yang meninggalkan dunia ini lebih dulu, dan mereka semua sudah berada dalam yang namanya “keabadian”. Dunia sudah mereka tinggalkan, tapi bukanlah hanya sekedar ketiadaan, bukan pula sebuah kebinasaan, hanya keterpisahan(ruh dan jasad) , perubahan keadaan, dan perpindahan dari satu alam ke alam lainya. Ini semua sudah ketetapan dari yang di atas, ibarat sebuah film, skenario dari sang sautradara sudah tersusun rapi dan tak bisa diubah (kecuali atas izin-Nya) siapa sautradaranya, tak lain tak bukan hanyalah pemilik alam jagad raya ini, Allah SWT.
      Sering kita melihat, ketika orang terkena musibah bencana alam, entah itu gempa, tsunami, kebanjiran, gunung meletus dan bencana lainya, terkadang para korban berpindah tempat ke barak pengungsian untuk mencari tempat yang lebih aman, para korban rela meninggalkan tempat atau rumah yang ber tahun-tahun mereka tinggali. Ketika para korban sudah lama tinggal di barak pengungsian, mereka rindu akan kampung halaman yang mereka tinggali sebelumnya, mereka ingin pulang, kembali  menikmati kehidupan seperti biasanya. Seperti itulah gambaran kehidupan yang sesungguhnya, kampung halaman adalah tempat untuk kembali, dan dunia  hanya ibarat barak pengungsian, tetapi di barak pengungsian itulah tempat yang menentukan, apakah kita akan kembali ke kampung halaman yang tenang, menyenangkan, dan penuh kenikmatan, atau  sebaliknya.
      Dikutip dari buku Imam Jalaluddin Al-Suyuthi yang berjudul “Sukses besar di hadapan Tuhan” yang salah satu isi bukunya berisi begini “Abu Qatadah menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw bersama para sahabat melihat rombongan orang yang membawa jenazah. Rasulullah Saw. kemudian berkata, “Orang yang beristirahat dan di istirahatkan.”Para sahabat kemudian bertanya, “Apa maksudnya, ya Rasulullah? “Kemudian Rasulullah Saw. menjelaskan maksudnya bahwa bagi seorang mukmin, mati berarti beristirahat dari beban dan siksaan dunia dan beralih untuk menikmati rahmat Allah. Adapun mati bagi orang jahat berarti diistirahatkan dari sebagai anggota masyarakat, sebagai hamba yang dapat menikmati daging hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bagi orang-orang mukmin, dunia ini sesungguhnya penjara baginya. Begitu mati, saat itulah mereka bebas dan meninggalkan penjara. Perumpamaan ini dikuatkan hadis Rasulullah Saw. berikut ini : “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, Jika ia mati, ia telah meninggalkan penjara, (HR. An-Nasai)
        Rasul mengumpakan dunia itu seperti di dalam penjara, kalau orang yang di dalam penjara pasti ingin segera bebas dari dalam penjara itu kan?. Semoga saat kita bebas bisa dalam kondisi Khusnul khotimah.. amin.

Taufik Ismail : Sajadah Panjang
Ada sajadah panjang terbentang
dari kaki buaian
sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
di atas sajadah yang panjang ini
diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan rukuk
hamba sujud tak lepas kening hamba
mengingat Dikau sepenuhnya




Tidak ada komentar :

Posting Komentar